Dua Sejak itu ia mendekam di penjara Polsek Semarang Tugu. Ia satu sel dengan dua orang narapida yang tertangkap karena mencuri sepeda motor. Dua nara- pidana itu mengajaknya untuk bergabung dalam komplotannya. Ia pura-pura mengiyakan, sebab ia takut jadi bulan-bulanan mereka. Ia diberi tahu trik-trik mencuri sepeda motor yang canggih. Juga trik-trik mencuri rumah orang kaya. "Di daerah Papandayan dan Candi, Semarang atas, banyak rumah mewah. Jika kita berhasil menggasak satu rumah saja. Kita bisa kaya mendadak." Kata napi berkumis tebal. Ia lalu diberi tahu peta daerah-daerah strategis untuk beroperasi. Ia masihbimbangbagaimana meneruskan hidup. Ia teringat cita-citanya. Ingin jadi mubaligh ternama sekaligus pengusaha Muslim yang berhasil. Maka setelah lulus SMA ia minta masuk pesantren sambil kuliah. Ia memilih pesantren di Kediri. Waktu di SMA memang ia agak nakal. Tapi dalam hati terkecil, cita- citanya adalah jadi
Dan kejadian di pesantren itu mengubah segalanya. Ia teringat Burhan. Anak pengusaha dari Jakarta itulah sumber petakanya. Ia dijebak Burhan, saat pesantren sedang panas oleh kejadian beberapa pencurian. Uang santri hilang. Ia jadi kambing hitam. Dan kini ia benar- benar mendekam
Sudah satu minggu ia dipenjara. Ia mulai bosan. Napi berkumis tebal berkata padanya, "Kau tenang saja Bur. Minggu depan bos kami akan datang. Dia akan menebus kami. Kau akan kami usahakan ikut ditebus. Tapi konsekuensinya, kau harus ikut memperkuat kami." Ia mengangguk. Jika itu benar-benar terjadi, ia memang benar-benar akan masuk di dunia hitam. Ia berdoa semoga ada mukjizat yang mengeluarkannya dari penjara. Tapi ia tidak bisa mengelak dari kejahatan- nya mencopet. Ia diputuskan mendekam di sel selama enam bulan. Satu bulan pertama ia akan menjalaninya di Polsek Tugu. Dan ada kemungkinan dipindah ke Penjara Kedungpane. Siang itu ia baru saja menyantap jatahnya makan siang. Seorang polisi datang dan membawanya keluar. Di ruang tamu ia melihat seorang gadis berjilbab. Hatinya berdesir. Nadia. Antara gembira dan sedih terbit dalam hatinya. Gembira bertemu adiknya, sedih karena kini adiknya tahu ia benar-benar
Nadia menoleh ke arahnya. Kaget. Tidak percaya. "Kau.. .kaubukanKakSs.. .s..." Nadia gagap tidak percaya.
Nadia menggeleng-gelengkan kepala dan menangis.
"Tenang Nadia, beri kesempatan aku bercerita. Mari kitabicara dengan tenang."
"Begitu membaca koran Suara Mahardika dan menonton berita di televisi mereka semua yakin yang tertangkap adalah kakak, meskipun memakai nama Burhan. Hanya aku yang tidak percaya, maka aku kemari. Ternyata dugaanku salah. Kakak memang seorang penjahat!"
"Maafkan aku Nadia. Demi Allah ini yang pertama kali aku lakukan. Dan aku berharap yang terakhir kalinya." Syamsul lalu menjelaskan perjalanan hidupnya sejak pergi dari rumah sampai
Nadia diam. Rasa kasihannya keluar setelah mendengar cerita kakaknya. "Hanya kau yang kuharapkan, Adikku.Tolonglah!"
"Baik. Biar aku negosiasi dengan polisi dulu. Baru kauambil uang di ATM ya."
la lalu bernegosiasi dengan polisi. Karena ia sudah belajar cara negosiasi dengan polisi, maka urusannya mudah. Apalagi ia menyebut seorang nama yang ia dapat dari kedua napi itu. Nama itu dikenal sebagai beking para kriminal. Akhirnya ia bisa keluar dari penjara dengan menebus cuma
Ia berterima kasih kepada adiknya. Dan ketika adiknya mengajaknya pulang, ia tidak mau. "Mereka pasti sudah tidak sudi melihat mukaku." "Tenang, Kak. Mereka akan Nadia yakinkan bahwa yang dipenjara itu bukan kakak. Tapi Burhan. Orang yang mirip kakak. Mereka kan tidak tahu kalau kakak sudahbebas. Kakak bilang saja tidak pernah dipenjara. Nadia tidak akan membocorkan hal ini pada mereka. la tetap tidak mau. Nadia memberinya uang lima ratus ribu, lalu kembali ke Pekalongan dengan perasaan sedih. Syamsulberharap akan menemukan cahaya yang terang dalam hidupnya. *** Syamsul merasa tidak bisa bertahan di Semarang. la ingin mengadu nasib yang lebih baik di tempat lain. Maka dengan bus ekonomi ia nekat pergi ke Jakarta setelah mengambil barang-barangnya di
Sampai di Jakarta ia tak tahu harus berbuat apa. Ia tiba di Lebak Bulus pagi buta. Bingung mau ke mana. Setelah shalat Subuh ia berjalan-jalan di terminal melihat- lihat. Ia merasa karena terlanjur nekat maka ia harus nekat. Akhirnya ia nekat naik angkot jurusan Parung. Ia ingin mencari masjid. Ia
Sampai di Parung ia turun, lalu berjalan kaki mencari masjid. Bertemu dengan sebuah masjid ia
"Mungkin saya bisa bantu-bantu menjaga dan membersihkan masjid. Kebetulan saya dulu dari pesantren." Katanya pada orang yang ada di masjid. "Maaf Dik, kebetulan sudah ada yang tinggal di sini. Dua orang malah. Juga dari pesantren. Sekarang sedang kuliah di UIN Syarif Hidayatullah. Maaf kami tidak nambah orang." la kecewa. Berkali-kali ia temukan masjid. la utarakan niatnya. Dan jawabannya mirip: tidak menerima tambahan orang. Di masjid yang terakhir, saat itu menjelang Ashar, dan dia sangat kelelahan, takmir masjid menyarankan agar dia mengontrak rumah saja. "Adik kan bisa mencari kerja. Tidak harus tinggal di masjid. Adik cari saja kontrakan di dekat masjid ini. Kalau kami perlu bantuan, Adik, kami bisa panggil Adik. Kalau tinggal di masjid tidak bisa. Kamarnya cuma satu dan telah ditempati Pak Ali, imam masjid ini, bersama isteri dan anaknya. Gimana Dik? Nanti saya bantu cari yang murah. Oh ya siapa tadi nama Adik?" Pada bapak yang halus budi itu, ia tidak berani berdusta,
"Ya jadi begitu saran saya Dik Syamsul. Oh ya nama saya Abbas. Panggil saja Pak Abbas. Kebetulan
Akhirnya ia ikut saran Bapak itu. Ia mendapatkan rumah satu kamar. Sewa per tahunnya dua juta.
"Baik. Pemilik rumah ini mengatakan katanya bisa dicicil empat kali. Sekali cicil berarti lima ratus ribu. Kamu ada empat ratus, bagaimana kalau yang seratus ribu saya usahakan. Adik bisa bayar kapan saja adik ada. Tapi cicilan selanjutnya adik usaha sendiri." "Saya pinjam tiga ratus ya Pak. Biar saya ada pegangan bulan ini."
Jadilah ia menyewa rumah. Sejak hari itu ia tinggal di sebuah perumahan tak jauh dari Parung. Ia mulai kenal dengan masyarakat. Namun sudah satu bulan ia belum juga dapat kerjaan. Uang pegangannya tinggal lima kali makan. Ia bingung. Ia harus berbuat apa. Cicilan rumah bulan depan juga belum ada. Akhirnya ia berkata pada diri sendiri, "Aku harus nekat. Minta belas kasihan orang itu
Hari itu ia naik angkot ke Lebak Bulus. Lalu naik Kopaja yang sesak penumpang. Ia nekat mengamalkan 'ilmu' yang didapat dari dua napi saat ia dipenjara. Berhasil! Seorang cewek berambut keriting jadi korban. Ia lalu beroperasi di bus yang lain. Berhasil! Seorang ibu- ibu setengah baya
"Kalau mencopet jangan terlalu tamak. Sehari dapat dua itu bagus. Yang ketiga dan keempat biasanya hilang konsentrasi." Ia teringat kata-kata napi berkumis tebal. Ia merasa harus pulang.
Dari dompet cewek keriting cuma lima puluh ribu. Tapi ada kartu ATM-nya. Dari dompet ibu-ibu setengah baya modis, lumayan, enam ratus ribu. Semuanya serarus ribuan, enam. Ada KTP dan SIM-nya. Ia ambil uang itu, ia masukkan ke dalam dompetnya. Sementara dompet korbannya ia simpan di
Meskipun diliputi rasa berdosa ia merasa lebih tenang. Malam harinya ia pergi ke pemilik rumah nyicil kontrakan. Hari berikutnya ia melakukan hal yang sama. Dapat cuma satu korban. Ia pulang. Ia tak mau ambil risiko. Korbannya kali ini seorang cewek berjilbab modis, kelihatannya mahasiswi. Ya, mahasiswi setelah ia lihat ada kartu mahasiswanya. Cantik juga, katanya dalam hati ketika melihat fotonya. Ada foto yang lain. Foto mahasiswi itu dengan seorang pria. Mungkin pacarnya, gumamnya.
"Tunggu, agaknya aku kenal dengan lelaki ini." Katanya. Ia amati dengan seksama, "Benar. Ini si Bajingan Burhan itu. O jadi ini pacar atau calon isterinya yang lain." Ia semakin yakin ketika membaca
Ia tersenyum. Ia penasaran. Ia lihat KTP cewek itu. "Ini saatnya perhitunganku berlaku." Ia ingat Burhan sudah serius dengan Dalmayanti, santriwati dari Tulungagung. Putri seorang kepala KUA. "Burhan ini benar-benar buaya! Tidak bisa dibiarkan!" Setelah mengambil uang dan KTP dari dompet korbannya ia melangkah keluar sambil menenteng tas ranselnya. Sekalian shalat Ashar ia hendak pinjam kendaraan pada Pak Abbas. Ia ingin mencari alamat yang ada di KTP itu yang kelihatannya tidak jauh dari tempat ia tinggal. Cewek itu ringgal di Villa Gratia, Parung bagian timur. Sementara dirinya ada di Parung bagian barat. Bakda Ashar ia meluncur dengan sepeda motor Pak Abbas. Tak lama ia temukan Villa Gratia itu. Perumahan elite. Pintu masuknya dijaga satpam. Ia tak jadi masuk. Ia terus saja jalan. Ia harus berpenampilan yang tidak mencurigakan. Ia teringat di ranselnya ada kopiah putih yang biasa ia pakai kalau shalat. Ia pakai kopiah itu baru pakai helm. Ia lihat alamat rumah cewek itu. Jl. Flamboyan 19. Ia tersenyum. Ia sudah mantap meng- hadapi satpam. Ia kembali ke Villa Gratia. Ketika mau masuk satpam menghentikannya. Ia lepas helmnya, sehingga tampak ia pakai kopiah.
"Mau ke mana Pak Ustadz? Ke rumah siapa?" tanya satpam itu. Ia tersenyum dalam hati. "Baru pakai kopiah saja langsung dipanggil ustadz. Wah boleh juga ini, aku
"Mm. Saya mau ke Flamboyan 17." Jawabnya mantap. Sengaja ia tidak bilang Flamboyan 19. Ia teringat pada nasihat napi berkumis tebal, "Jangan pernah mengatakan sasaran kita sebenarnya kepada siapapun saat observasi! Termasuk ketika bertanya atau menjawab pertanyaan." "O mau ke rumah Pak Broto ya. Jadi si Kecil Dela itu sudah mau ngaji ya Ustadz. Cepat sekali Pak Broto dapat ustadz, padahal baru kemarin sore bilang ke saya." Kata satpam itu. "Iya. Alhamdulillah. Nanti kalau dengar ada yang mencari guru ngaji bisa bilang saya ya." Ia
"Ya, insya Allah, Ustadz, tapi komisinynya, Ustadz."
Ia lalu masuk dengan tenang. Rumah-rumah di perumahan itu mewah semua. Seperti istana. Ia masuk Jalan Flamboyan. Rumah bernomor 19, luar biasa besar. Dalam hati ia berkata, "Si Burhan bajingan itu beruntung punya mertua tajir begird." Ia lalu mencari masjid. Ketemu masjidnya juga mewah dan bagus. Ia teringat kata-kata satpam tadi, "Jadi si Kecil Dela itu sudah mau ngaji ya Ustadz. Cepat sekali Pak Broto dapat ustadz, padahal baru kemarin sore bilang ke saya." Ia ter- senyum. Ia berharap Pak Broto belum menemukan guru ngaji. Ia merasa harus nekat. "Mau nyopet aja perlu nekat, masak mau ngajar ngaji tidak nekat. Tak ada salahnya tho copet ngajar ngaji biar dosanya
Lalu dengan mantap ia memarkir sepeda motornya di depan rumah di Jalan Flamboyan no. 17. Ia pencetbel. Seorang pembantu wanita agak tua membuka pintu.
Dengan tenang ia masuk. Tak lama seorang lelaki gemuk bersarung dan berbaju koko keluar. "Oh Ustadz. Di mana kita pernah bertemu ya Pak Ustadz?" Pak Broto merasa kenal. "Mungkin di suatu masjid. Saya juga lupa Pak Broto. Gini Pak Broto langsung saja, ada yang memberitahu saya, katanya Pak Broto perlu guru pri vat ngaji untuk si Kecil Delia. Apa betul?"
"Benar Pak Ustadz. Sudah ada seorang guru ngaji yang datang tadi pagi tapi saya tidak cocok, sebab dia tidak ada background pesantrennya. Saya ingin guru ngaji yang pemah belajar di pesantren." "Kebetulan saya dulu pernah nyantri di Kediri. Asli saya dari Pekalongan Pak Broto. Sekarang saya
"O ya...ya...ya. Alhamdulillah kalau begitu. Semoga si Delia mau. Sekarang tinggal Della-nya mi. Oh
Syamsul ingin tertawa. Belum pernah bertemu tapi merasa sudah kenal. Kadang orang kaya itu
"O ya..ya...ya. Saya panggilkan Delia dulu. Biar segera clear urusannya." Pak Broto lalu masuk memanggil-manggil anaknya. Tak lama, ia kembali keluar bersama anak putri
"Ini Dik Delia ya?" sapa Syamsul dengan ramah.
"Kenalkan nama kakak Syamsul, panggil Kak Syamsul."
"Iya. Itu jika Delia mau berteman dengan Kak Syamsul." "Kak Syamsul bisa nyanyi nggak. Soalnya Delia inginnya tuh ustadz Delia juga yang pinter nyanyi."
"Coba Kak Syamsul nyanyi lagu daerah dari Kalimantan!" "Wah kalau itu mah kecil. Nih dengerin baik-baik ya Delia:
Syamsul lalu menyanyi dengan semangat. Delia lalu ikut bernyanyi. Begitu lagu selesai, Delia
Pak Broto tersenyum, "Ya sudah kalau begitu. Ayah mau bicara sama Kak Syamsul dulu ya. Kamu
Delia lalu masuk dengan berlari dan berteriak, "Hore aku puny a ustadz pinter nyanyi...!" "Alhamdulillah Pak Ustadz. Seperti yang Ustadz dengar sendiri. Delia mau. Terus kontrak kita bagai-
"Saya ikut aturan bapak saja. Saya tidak meragukan profesionalitas Pak Broto."
"Hmm baiklah. Saya samakan dengan privat pianonya Delia saja ya Ustadz?"
"Satu minggu empat kali pertemuan. Satu pertemuan satu setengah jam. Sehingga satu minggu ada enam jam. Satu jamnya saya hargai seratus ribu. Jadi satu minggu enam ratus ribu. Dan satu bulannya dua juta empat ratus ribu. Kalau ada jam tambahan maka harga per jamnya seratus ribu. Begitu Ustadz, bagaimana?"
"Terus pengaturan jamnya bagaimana, Ustadz?" "Begini saja. Pak Broto saja yang bikin dengan melihat jam kegiatan Delia. Insya Allah habis ini saya ke masjid. Saya shalat Maghrib di masjid perumahan ini, Insya Allah. Setelah shalat kita bicarakan di
Syamsul meninggalkan rumah itu dan pergi ke masjid. Sambil menunggu ia berbincang-bincang dengan penjaga masjid. Ia banyak mendapatkan info yang berharga. Termasuk tentang penghuni rumah no.19 Jalan Flamboyan. Silvie ternyata mahasiswi jurusan ekonomi UI. Silvie anak tunggal. Ayahnya seorang pengusaha di bidang travel dan pariwisata. Namanya Pak Heru. "Pak Heru itu bisa dikatakan yang paling kaya di perumahan ini. Ia punya travel yang sudah punya cabang di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Cabang travel-nya juga ada di Singapura, Malaysia dan Arab Saudi." Begitulah penjaga masjid itu menerangkan. "Hanya saja Pak Heru sedikit pelit. Kalau membantu masjid sedikit. Masihbagusan Pak Broto yang
Waktu Maghrib tiba. Jamaah berdatangan . Penjaga itu yang azan dan iqamat. Saat shalat mau didirikan penjaga masjid itu mempersilakan Syamsul jadi imam. Syamsul ragu dan tidak mau. Tapi Pak Broto yang sudah hadir memaksanya agar ia mau. Akhirnya ia pun jadi imam. Dalam hati ia beristighfar sebelum maju dan berkata, "Ya Rabbi apakah kau mau menerima shalat hamba-hamba-
Ia shalat dengan membaca surat-surat pendek. Bacaannya tartil. Satu tahun di pesantren cukup baginya untuk membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Usai shalat ia berbincang-bincang dengan Pak Broto. Kesepakatan-kesepakatan ten tang hari dan jam dengan cepat tercapai. Di tengah asyiknya berbincang, Pak Heru ikut nimbrung. Pak Heru bercerita tentang musibah yang menimpa putrinya
"Sekali ini dia naik bus kota langsung kecopetan. SIM, STNK, KTP, Kartu Mahasiswa hilang. Untung pas tidak bawa ATM. Ia juga kehilangan empat ratus ribu." Pak Broto diam mendengarkan. Demikian juga Syamsul. Dalam hati Syamsul berkata, "Pak, si Copet yang mencopet putri Bapak ada di depan
Seorang jamaah yang mendengar dari kejauhan mendekat sambil berkata, "Mungkin karena kurang
"Masak? Kan tiap tahun harta saya sudah saya zakati 2,5 persen." "Mungkin yang kurang infak shadaqahnya. Shadaqah kan tolak balak. Bener nggak, Ustadz?"
Pak Heru terdiam. Syamsul harus minta diri pulang. Sebab ia pinjam kendaraan Pak Abbas hanya sampai jam delapan malam. Dalam perjalanan ia berniat untuk taubat dan jadi manusia baik
***
Posted via Blogaway

Tidak ada komentar:
Posting Komentar